Trip to Tana Toraja: Antara Wisata dan Pekerjaan Part 1

Sehabis daftar ulang untuk kursus bahasa inggris di bulan Maret 2015 itu, tiba tiba smartphone Sony saya berdering.  Ketika dicek ternyata dari kakak saya.  Dia mengajak saya untuk ikut dengannya, karena ada pekerjaan di luar pulau.  Oiya, saya dulu masih freelance dan sembari melamar sana sini ayah saya menyarankan untuk mengikuti kursus Bahasa Inggris selama lima bulan, dan kakak saya ketika itu (masih sampai sekarang) punya usaha dibidang jasa konsultan untuk desain bangunan.  Dia punya perusahaan namanya CV. Ardani, kalau butuh jasanya bisa email saya...hehehe.  Lanjut ke cerita, dia mengajak saya untuk menemani dia instalasi interior di sebuah klinik di Sulawesi, tepatnya di Tana Toraja.  Saya langssung mengiyakan ajakan tersebut, padahal baru daftar ulang untuk kursus bahasa inggris dan seminggu kemudian harus mulai masuk.  Pikir saya, kapan lagi bisa jalan-jalan ke luar pulau tanpa keluar uang karena seluruh akomodasi kakak saya yang tanggung. 

Tepat jam 14.00 hari berikutnya (kalau tidak salah hari selasa), saya bersiap siap untuk pergi ke rumah kakak saya di Purwakarta (saya tinggal di Bandung).  Setelah berpamitan dan meminta doa kepada orang tua saya pun meluncur.  Tepat pukul 16.30 akhirnya saya tiba di kediaman kakak saya di Purwakarta.  Setelah ngobrol-ngobrol ternyata baru tahu bahwa kakak saya bawa anak buahnya juga ke sana, totalnya ada tiga orang, spesialis pembuatan furnitur.  Kakak saya bilang bahwa keberangkatan pesawat jam 05.55 dari Cengkareng.  Wah, ini pertama kalinya juga saya naik pesawat.  Tepat jam 22.30 mata saya mulai ngantuk, akhirnya saya pun tidur.  Saya dibangunkan oleh kakak saya tepat pukul 01.30 karena harus mengejar jadwal pesawat pagi harinya.  Tepat jam 02.00 dini hari dengan menggunakan bus Damri yang menuju bandara saya beserta rombongan pun berangkat.  Pukul 04.00 bis tiba di bandara dan menuju Terminal C Bandara Soekarno Hatta.  Kakak saya langsung boarding pass, setelah beberapa lama akhirnya selesai.  Kita langsung ke ruang tunggu keberangkatan, karena sudah memasuki waktu subuh kita pun melaksanakan shalat subuh terlebih dahulu.

Tepat pukul 05.55 pesawat Citylink yang membawa rombongan take off dari bandara.  Perjalanan memakan waktu sekitar 2 jam 30 menit, karena perbedaan waktu kita tiba di Makassar pukul 09.30 WITA.  Tiba di Bandara kita langsung mencari angkutan untuk membawa kita ke Toraja. Bertanya ke petugas bandara mengenai angkutan yang bisa membawa kami ke Toraja, anehnya mereka langsung menunjukkan kami ke angkutan taksi gelap.  Memang kondisi pada saat itu sedang ada demo antara taksi resmi dan taksi gelap dan agak sedikit chaos.  Ujung-ujungnya kami diarahkan naik taksi gelap juga, ya sudahlah yang penting sampai ke Toraja.  Ada sedikit drama ketika kami mau keluar bandara, sopir taksi tersebut tidak berani membawa mobil dilingkungan bandara sampai ke pintu keluar karena yakin mobil tersebut akan dicegat oleh pendemo karena para pendemo pasti mengenali sopir taksi tersebut yang pada akhirnya bisa membahayakan kami.  Akhirnya kami janjian, mobil dibawa oleh kami sampai pintu keluar bandara dan sang sopir taksi menggunakan sepeda motor bersama temannya untuk keluar bandara.
Rumah adat Tongkonan
Perasaan tidak enak ketika kami melewati para pendemo, karena kami yakin mereka pasti mengenali mobil kami  Dan pada akhirnya salah satu pendemo berteriak-teriak untuk memberhentikan mobil yang kami tumpangi.  Mobil kami langsung dicegat, kami berhenti dan mereka langsung membuka pintu mobil.  Kami tetap santai walaupun dalam hati sangat ketakutan sekali dengan perangai para pendemo tersebut.  Mereka kemudian mengecek seisi mobil tersebut, karena tidak ada yang mereka kenali kemudian mereka bertanya ke kakak saya yang kebetulan menjadi pengemudinya. Kakak saya beralasan ini mobil lepas kunci (maksudnya disewakan), bagaimana jadinya bila sopir asli taksi tersebut ada didalam mobil, ah sudahlah.  Dari arah depan polisi berteriak-teriak supaya kami lekas melanjutkan perjalanan.  Akhirnya kami bisa melanjutkan perjalanan untuk keluar bandara.  Di luar bandara kami janjian dengan sopir asli mobil tersebut.  Lega rasanya ketika kami bisa keluar dari bandara, lepas dari teror para pendemo.  Ini juga sebenarnya tidak lepas dari kesalahan kami yang salah memilih taksi untuk melanjutkan perjalanan ke Toraja.  Untuk update certinya ada diartikel selanjutnya.

Belum ada Komentar untuk "Trip to Tana Toraja: Antara Wisata dan Pekerjaan Part 1"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel